
Pada tahun 2025, jagat maya dihebohkan oleh isu besar yang menyebut bahwa Grab akan mengambil alih Gojek, dua raksasa transportasi online di Asia Tenggara. Kabar ini mencuat melalui bocoran dari media teknologi internasional dan langsung menjadi trending topic di berbagai platform media sosial Indonesia.
Gojek adalah perusahaan teknologi asal Indonesia yang berdiri pada 2010, dikenal sebagai pelopor layanan ojek online.
Grab, perusahaan asal Malaysia-Singapura, merupakan kompetitor utama Gojek di Asia Tenggara, dengan cakupan layanan transportasi, pembayaran digital, hingga logistik.
Keduanya pernah menjajaki merger pada 2020–2021, namun gagal karena perbedaan strategi dan valuasi.
Isu ini dipicu oleh laporan investor yang menyebutkan Grab ingin memperluas dominasinya di Indonesia.
Gojek dikabarkan mengalami restrukturisasi internal dan efisiensi operasional.
Pihak Gojek dan Grab belum memberikan konfirmasi resmi, namun media menyoroti adanya pergerakan valuasi saham dan investor.
Potensi merger atau akuisisi akan berdampak pada persaingan bisnis digital di kawasan ASEAN.
Efisiensi operasional dan layanan.
Penggabungan teknologi dan ekosistem pembayaran.
Meningkatnya daya saing melawan pemain global seperti Uber dan Shopee.
Potensi pemutusan hubungan kerja.
Monopoli dan pengurangan pilihan layanan untuk konsumen.
Kekhawatiran atas dominasi satu entitas dalam ekonomi digital Indonesia.
Banyak netizen menyuarakan keprihatinan akan nasib driver dan karyawan Gojek.
Pemerintah melalui KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) menyatakan akan mengawasi jika benar terjadi akuisisi untuk mencegah monopoli.
Laporan media dari Tech in Asia, Bloomberg, CNBC Indonesia
Pernyataan dari Kementerian Kominfo dan KPPU
Wawancara dan reaksi publik di media sosial