
Meski perjudian seringkali dilarang karena dampak sosialnya, di beberapa negara tertentu kasino dilegalkan dan diatur secara ketat sebagai bagian dari strategi ekonomi. Hasilnya, sektor ini bisa menyumbang pendapatan negara, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan pariwisata internasional.
Negara yang melegalkan kasino biasanya mengenakan pajak tinggi kepada operator perjudian, termasuk pajak dari:
Pendapatan perjudian (GGR)
Pajak penghasilan pekerja kasino
Biaya lisensi dan izin operasional
Contoh:
Makau memperoleh lebih dari 50% pendapatan pemerintahnya dari kasino.
Singapura mendapatkan miliaran dolar dari dua kasino besar: Marina Bay Sands dan Resorts World Sentosa.
Kasino menarik wisatawan mancanegara, terutama dari negara yang melarang perjudian. Fenomena ini dikenal sebagai casino tourism, dan berdampak pada:
Tingkat hunian hotel meningkat
Konsumsi restoran & hiburan lokal naik
Aktivitas bandara dan transportasi meningkat
Contoh: Las Vegas dan Makau menjadi destinasi dunia bukan hanya untuk judi, tapi juga hiburan, konser, dan pameran global.
Industri kasino tidak hanya menyerap pekerja langsung, tetapi juga menciptakan multiplier effect di sektor lain:
Hospitality (hotel & restoran)
Transportasi (taksi, bus, travel)
Event organizer dan media
Teknologi keamanan & IT
Jika dikelola dengan regulasi ketat dan transparan, kasino bisa menjadi penyeimbang fiskal, terutama untuk wilayah yang minim sumber daya alam. Namun, negara biasanya membatasi warganya untuk bermain, agar dampak sosial tetap terkendali.
Negara dengan nilai budaya atau agama yang kuat menolak perjudian (seperti Indonesia) memilih untuk melarang kasino karena dampak moral dan sosialnya dianggap lebih besar dari potensi ekonomi.
Negara dengan kontrol hukum yang lemah berisiko menjadikan kasino sebagai sarang pencucian uang atau kriminalitas.
Macau Government Tourism Office – Gaming Revenue